Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ontalan, Ciri Khas Serangkaian Acara Nikahan Adat Madura Masih 'Kental' di Klakah Lumajang

Ketika ontalan berlangsung di rumah warga Seruni Klakah Lumajang

Lumajang (suarasatunews.com)
Ada sebuah kebiasaan, kian menjadi ciri khas disetiap acara pernikahan adat madura. Salah satunya bisa dijumpai di Desa Seruni Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang Jawa Timur. 

Nama ontalan, dikenal dan tidak asing lagi. Ontalan berasal dari bahasa madura yang artinya melempar. 

Mulanya, mempelai laki - laki dan perempuan dinikahkan ke penghulu.
Setelah usai, kedua pengantin bersama keluarga pengantar ( iring - iringan manten ) bersama - sama menuju ke kediaman mempelai laki - laki. 

Setibanya disana, pengantin laki - laki dan perempuan beberapa saat jelang akan pulang menuju ke kediaman mempelai perempuan, keduanya didudukkan terlebih dahulu diteras rumah mempelai laki - laki.

Disaat mempelai duduk di satu kursi, dihadapan mereka di taruh meja dan diatasnya terdapat wadah, talam ( baki ). Diatasnya lagi, terkadang di beri sapu tangan ukuran agak lebar. 

Setelah siap tertata dan semua berkumpul, barulah detik - detik ontalan dimulai. Sepatah sambutan dilakukan oleh perwakilan mempelai pria atau sesepuh desa setempat, diutarakan sembari memanggil nama sanak saudara mempelai satu persatu. 

Tak lama kemudian, dihadapan tamu undangan dan sanak saudara, ontalan dimulai. 

Satu persatu sanak saudara menaruh uang di atas baki yang sudah disediakan. 

Uniknya, uang tersebut tidak ditaruh dengan diletakkan seperti biasanya. 
Tapi, dilakukan dengan cara melempar sembari mengucap do'a menggunakan bahasa masing - masing. 

Gelak tawa riang menyemarakkan suasana saat itu, dimana tak jarang dari sanak saudara yang memberikan ontalan, melempar uang kisaran 10rb hingga 20rb dalam bentuk pecahan koin. 

Setelah semua usai, barulah uang tersebut dihitung keseluruhan dan dibungkus sapu tangan lalu diberikan pada mempelai wanita. 

Warga setempat menyebut, uang yang diberikan tersebut adalah 'pangestoh' yang artinya tanda restu. 

"Wujud pangestu, ikhlas memberikan dan mendo'akan demi kebaikan kedua mempelai," kata adi yang saat itu mengikuti acara ontalan, di Desa Seruni, Minggu (9/9/2018).

"Ontalan sudah menjadi kebiasaan, sejak dulu. Turun temurun hingga kini disetiap serangkaian acara pernikahan kerap digunakan," imbuhnya. 

Acarpun ditutup dengan do'a oleh Ustadz setempat dan kedua mempelai melanjutkan perjalanan ke kediaman pengantin perempuan. 

Sumber : TIM